Indonesia dan Malaysia sama-sama negara Asia Tenggara dengan sejarah kolonial, budaya serumpun, dan potensi sumber daya alam besar. Namun dalam berbagai indikator—seperti pendapatan per kapita, kualitas layanan publik, kemudahan bisnis, hingga kecepatan pengambilan kebijakan—Malaysia kerap terlihat lebih “maju” dibanding Indonesia. Berikut 10 alasan utama yang menjelaskan kondisi tersebut.
1. Skala Negara Lebih Kecil, Tata Kelola Lebih Mudah
Malaysia memiliki wilayah dan populasi yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia. Dengan jumlah penduduk sekitar 34 juta jiwa (vs Indonesia ±280 juta), pemerintah Malaysia lebih mudah mengontrol kebijakan fiskal, infrastruktur, pendidikan, dan layanan publik. Kompleksitas birokrasi pun lebih rendah.
2. Pendapatan Per Kapita Lebih Tinggi
Pendapatan per kapita Malaysia berada di kisaran USD 12.000–13.000, sedangkan Indonesia sekitar USD 5.000. Ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, kualitas pendidikan, kesehatan, serta kemampuan negara membiayai layanan publik.
3. Konsistensi Kebijakan Industri Sejak Lama
Sejak 1980-an, Malaysia konsisten mengembangkan sektor manufaktur bernilai tambah seperti elektronik, semikonduktor, otomotif, dan petrokimia. Indonesia sering berganti arah kebijakan industri tergantung rezim, sehingga kesinambungan pembangunan industri kurang stabil.
4. Iklim Investasi Lebih Pasti dan Ramah
Malaysia dikenal memiliki kepastian hukum dan regulasi yang lebih sederhana. Proses perizinan, perpajakan, dan ekspor-impor relatif cepat. Di Indonesia, meskipun ada perbaikan (OSS, UU Cipta Kerja), implementasi di daerah sering tidak seragam.
5. Kualitas Pendidikan dan Link ke Industri Lebih Kuat
Universitas dan politeknik Malaysia lebih terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Kurikulum vokasi mereka fokus pada keterampilan siap kerja. Indonesia masih menghadapi kesenjangan besar antara lulusan pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
6. Infrastruktur Lebih Merata dan Terawat
Malaysia lebih dahulu membangun jalan tol, pelabuhan, bandara, dan sistem transportasi antarkota secara merata. Indonesia memang sedang mengejar ketertinggalan, namun tantangan geografis kepulauan membuat biaya dan waktu pembangunan jauh lebih besar.
7. BUMN Lebih Fokus pada Bisnis, Bukan Politik
BUMN Malaysia cenderung dikelola dengan orientasi profesional dan profit. Di Indonesia, BUMN sering menjadi alat kebijakan sosial, politik, atau penugasan non-komersial, sehingga efisiensi dan daya saingnya menurun.
8. Tingkat Urbanisasi Terkelola Lebih Baik
Urbanisasi Malaysia relatif terkonsentrasi dan terencana, terutama di Lembah Klang. Indonesia mengalami urbanisasi masif tanpa kesiapan infrastruktur kota, memicu kemacetan, kawasan kumuh, dan tekanan sosial-ekonomi.
9. Fokus pada Kualitas SDM, Bukan Sekadar Kuantitas
Malaysia sejak lama berinvestasi besar pada kualitas SDM—beasiswa, riset, dan pendidikan teknis. Indonesia memiliki bonus demografi besar, namun kualitas SDM belum sepenuhnya mampu mengonversi jumlah besar tersebut menjadi produktivitas tinggi.
10. Pengambilan Keputusan Lebih Cepat dan Teknis
Sistem pemerintahan Malaysia memungkinkan keputusan strategis diambil lebih cepat dan teknokratis. Di Indonesia, proses pengambilan keputusan sering terhambat tarik-menarik politik, kepentingan pusat-daerah, serta tekanan populis.
Penutup
Penting dicatat bahwa “lebih maju” bukan berarti Malaysia tanpa masalah, dan Indonesia tanpa keunggulan. Indonesia unggul dari sisi pasar domestik, sumber daya alam, dan potensi jangka panjang. Namun saat ini, Malaysia diuntungkan oleh skala negara yang lebih kecil, konsistensi kebijakan, dan fokus pada efisiensi.
Jika Indonesia mampu memperbaiki kualitas tata kelola, konsistensi industri, dan kualitas SDM, keunggulan Indonesia dalam 10–20 tahun ke depan justru bisa melampaui Malaysia.

0 comments:
Post a Comment